“COD dan Uang Muka” Kode Transaksi Dalam Industry Seks di Kota Jayapura

PSK online

Jayapura, Indotimur

Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia ( PKBI ) Papua mensinyalir jumlah pekerja seks makin marak di Kota Jayapura. Karena kondisi kota ini yang terbuka.

Direktur PKBI Papua, Ais Riawaru kepada awak media pekan ini mengungkapkan akses transportasi masuk ke kota berjuluk ‘Kota baku bawa’ ini, banyak kedatangan semua orang, sehingga industry hiburan dan jasa adalah bagian yang tidak terpisahkan.

Salah satunya adalah industry hiburan yang hubungannya dengan Pekerja Seks Perempuan (PSP).  Berdasarkan estimasi Kemenkes yang dipakai bahwa diperkirakan jumlah pekerja seks di Kota Jayapura berkisar 1700-an orang. Namun dari data perhitungan yang sudah ada di PKBI mencapai angka 1218.

“Itu pekerja seks yang terselubung dan ada juga yang langsung. Bisa saya sampaikan bahwa PKBI bekerja untuk wilayah pekerja seks yang bukan bar, panti pijat/timung. Karena kita sudah mencoba agar teman – teman di bar, panti pijat. Ini sudah menjadi bagian yang selalu rutin di pusat reproduksi Kotaraja dan mungkin semua tau itu. Kita menjangkau yang selama ini mereka yang ada di masyarakat seperti pekerja seks local, pekerja seks jalanan dan termasuk yang ada di kos-kosan dan yang ada di masyarakat,”bebernya.

PKBI yang berdiri sejak tahun 1996 bekerja khusus untuk Pekerja Seks Perempuan dan di tahun 2024 sudah mencapai target sekitar 1400-an dengan by name, by address sudah ada dan penyebarannya semua yang ada di kota Port Numbay.

Direktur PKBI Papua Ais Raiwaru didampingi dua stafnya saat memberikan keterangan pers
Direktur PKBI Papua Ais Raiwaru didampingi dua stafnya saat memberikan keterangan pers

Ada Kode ‘COD’

 Dikesempatan itu Ais yang didampingi dua stafnya itu mengungkapkan kota ini terus berkembang. Industry seks juga ada dan yang belanja juga ada. Kendala utamanya adalah pekerja seks tidak langsung, terutama yang jualannya di kost-kostan, yang pekerjaannya terselubung. Kemudian ada juga yang menggunakan media sosial, media pertemanan.

Biasanya saat bertransaksi seks mereka menggunakan kode COD (Cash on Delivery).

“Pengguna itu sudah biasa. Kalau dibilang COD, itu barangnya pasti ada (PSP). Tinggal harganya disepakati dan itu ada. Tetapi kalau kode ‘uang muka’. Itu biasanya barangnya tidak ada. Istilah itu biasa dipakai oleh para pelanggan yang menggunakan aplikasi hijau yang sebagian besar digunakan PSP. Tetapi ada juga aplikasi medsos lain juga digunakan,”ungkapnya.

Dirinya mengakui pendampingan dengan menggunakan aplikasi ini cukup berat. Karena waktu bagi dia adalah uang dan pihaknya sulit untuk bertemu. “Tetapi kalau kita sudah bisa masuk. Terus kita mulai dengan berikan kondom dulu. Kalau kita kasih no hp dan dia kontak kita. Baru kita bisa bawa ke layanan yang bermitra dengan PKBI,”paparnya.

Diketahui PKBI pada tahun 1996. Sejak tahun sampai hari ini tidak pernah berhenti.

Menurutnya, jumlah PSP berdasarkan KTP domisili kota Jayapura masih mendominasi sebanyak 495.

Sementara PSP berdasarkan metode kerja, PSP terselubung yang memiliki profesi lain sebesar 74 persen.

Lokasi Hotspot terbesar transaksi PSP berdasarkan  distrik, terbanyak ada di Distrik Jayapura selatan.

“Teman teman yang ada di Bar, Panti Pijat merupakan bagian yang selalu rutin screening di pusat kesehatan reproduksi di Kotaraja,” ungkapnya.

Dia menegaskan selama ini  PKBI menjangkau l para PSP yang ada di masyarakat ( Pekerja seks Lokal, Pekerja Seks jalanan )  termasuk yang ada di area kost – kostan ).

Dia menambahkan fasilitas kesehatan untuk pelayanan pemeriksaan gratis sudah ada di pusat kesehatan yang ada di kota Jayapura. “Sehingga kami juga mengajak warga yang merasa berisiko untuk segera memeriksakan diri dan tidak perlu malu. Lebih baik mencegah dari ada mengobati,”pungkasnya. (Julia) 

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi