Sentani, Indotimur –
Lokakarya penyusunan Arah Dasar Keuskupan Jayapura resmi dibuka pada Senin sore (5/1/2025) di Biara Sentani dengan melibatkan 22 peserta. Kegiatan yang berlangsung 5 – 9 Januari ini menjadi momentum strategis dalam rangka mempersiapkan rumusan Arah Dasar yang akan ditetapkan pada Sinode Keuskupan Jayapura mendatang.
Pembukaan, dipimpin P. Kleo, dilanjutkan dengan pembacaan rundown kegiatan serta pengecekan kehadiran peserta oleh Florida. Lokakarya ini dipandang sebagai tahapan krusial untuk memastikan kesiapan substansi Sinode, khususnya dalam merumuskan kebijakan dan arah pastoral keuskupan ke depan.
Dalam Sesi I yang berfokus pada pengantar proses lokakarya, P. Kons menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menghasilkan sekitar 75 persen draf Buku Arah Dasar. Dengan demikian, pada saat pelaksanaan Sinode tidak diperlukan pembongkaran ulang dokumen, melainkan pengesahan dan penegasan kebijakan. Draf hasil lokakarya ini disebut sebagai inti substansial dari Sinode Keuskupan Jayapura.
Proses kerja lokakarya diarahkan pada dinamika kerja kelompok dan pleno dengan mekanisme pembobotan. Penekanan diberikan pada optimalisasi kerja kelompok yang selama ini dinilai belum maksimal, sekaligus untuk memperjelas program khas masing-masing dekenat. Pada akhir lokakarya, agenda serta pokok-pokok pembahasan Sinode akan ditetapkan secara lebih sistematis.
Lokakarya ini juga dipandang sebagai puncak kerja Tim SC-OC dan tim ahli, sehingga menuntut keterlibatan serius dari seluruh peserta.

Kehadiran Imam Projo
Kehadiran para imam projo diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap Arah Dasar yang dirumuskan, meskipun ketidakhadiran mereka tidak akan menghambat proses agar tidak kembali ke tahap awal.
Setelah lokakarya, akan dibentuk tim redaksi khusus untuk menyeragamkan bahasa dan gaya penulisan dokumen. Kehadiran Bapa Uskup dan P. Marthin Silitubun direncanakan secara khusus dalam pleno pembobotan, terutama untuk bagian kebijakan pastoral dan hukum.
Dalam dinamika kerja kelompok, Abdon Binsei mengusulkan agar presentasi hasil dilakukan per misi atau per poin, bukan per kelompok. Hal ini ditegaskan juga oleh Pastor Kons bahwa meskipun proses kerja berlangsung dalam tim, presentasi pleno akan berbasis tema atau misi untuk kemudian diberi pembobotan bersama.
Laporan progress menunjukkan variasi capaian antar kelompok :
Kelompok 1 telah memiliki substansi yang relatif lengkap dan tinggal menyempurnakan bahasa.
Kelompok 2 bekerja dalam dua subkelompok dan tengah menggabungkan hasil kerja.
Kelompok 3 belum bergerak optimal pada tema solidaritas dan dialog karena keterbatasan pertemuan.
Kelompok 4 mulai mengerjakan draf dengan perhatian pada aspek teologis.
Kelompok 5 belum bertemu, namun telah ada inisiatif awal dari Sr. Donata.
Kelompok 6 masih bersifat deskriptif dan belum dinarasikan, Kelompok 7 menghadapi tantangan dalam merumuskan strategi karena arah dasar dinilai belum cukup jelas.
Lokakarya juga menyepakati kerangka besar Buku Arah Dasar yang meliputi Visi dan Misi, Pokok-pokok Pengembangan, serta Strategi Pastoral. Setiap pokok pengembangan akan diawali dengan latar belakang, dilanjutkan strategi yang dijabarkan dalam misi untuk mencapai visi.
Struktur penulisan tiap tema mencakup kebijakan umum, program, penanggung jawab atau fungsionaris, serta proses atau momentum pelaksanaan program.
Menanggapi pertanyaan peserta, Pastor Kons OFM menjelaskan kebijakan umum merupakan penjabaran Arah Dasar dalam konteks misi Gereja yang keluar. Sementara itu, tema partisipatif ditegaskan tidak dihilangkan, melainkan diintegrasikan dalam tema pelayanan.
Pada Sesi II, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan aplikasi kecerdasan buatan (AI) dalam membantu penyusunan Arah Dasar per tema. Sesi ini dipandu oleh P. Kons bersama Bapak Evaristus sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan kualitas perumusan dokumen.
Dukungan Pemprov Papua
Dalam Sesi III, Uskup Jayapura Mgr. Yanurius Theofilus Matopai You memberikan arahan sekaligus kabar gembira hasil pertemuannya dengan Gubernur Papua.
Pemerintah Provinsi Papua menyatakan kesiapan mendukung pelaksanaan Sinode, baik dari segi tempat maupun pendanaan. Uskup Jayapura juga mendorong penataan ulang draf program agar lebih tepat sasaran.
Uskup Yanuarius berharap agar lokakarya ini mampu menghasilkan draf final yang siap disahkan dalam Sinode, mengingat akan ada kebijakan pastoral yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Keuskupan Jayapura.
Ia juga meminta perhatian khusus pada kekhasan empat dekenat serta pengembangan kearifan budaya lokal sebagai bagian integral dari Arah Dasar pastoral Keuskupan Jayapura. (rls/julia)





