Catatan Menjelang Hari Pers 9 Februari 2025
Oleh : Abdul Munib
Pers era digital harus dapat menyesuaikan diri dengan karakter dunia maya, yakni menjadi pers yang lebih mendalam dan kokoh dalam mengungkap kebenaran dan arah peradaban yang layak.
Kemasan pers digital tampil dalam kemahiran dunia video grafis dan konten kreator. Pers Kebangsaan dan Pers Nasional harus dikokohkan dalam strata hukumnya yang tertinggi disamping UU Pers yang sudah ada. Hal ini seiring dengan fakta realita dunia bahwa Pers tidak bisa berdiri hanya di alam ide yang diajarkan selama ini melainkan harus bertumpu pada hakikat kebenaran, yakni eksistensi bangsa Indonesia.
Seiring juga Pers Barat yang mutlak dan total mendukung peradaban merka secara membabi buta. Bahkan kini pers atau media masa, seiring perkembangan dunia global yang ada di media digital, telah dipakai sebagai alat untuk perang opini. Kedudukannya bahkan dinilai lebih efektif dan lebih dahsyat dari kekuatan senjata konvensional.
Selain jadi alat perang opini, pers juga dijadikan sebagi alat perang kognitif. Dalam sejarah konflik global, Perang Konvensional dengan penggunaan senjata fisik dipandang sebagai elemen utama dan strategis. Namun, dalam Perang Modern, jenis persenjataan keras kini bertransformasi dengan menjadikan media dan budaya sebagai elemen strategis.
Dalam konteks konflik yang terjadi di Asia Barat dan Perang Ukraina misalnya, khususnya pasca operasi besar-besaran di Gaza pada 7 Oktober 2023. Peran kekuatan lunak ini semakin nyata. Media bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan senjata yang dapat menentukan narasi, opini publik, hingga arah kebijakan internasional maupun nasional. Apakah kita di Indonesia kini tidak mempersiapkan diri untuk ambil bagian dan mengambil posisi strategis bagi bangsa, selain partai politik.
Sebuah contoh menarik muncul dari penciptaan karakter Mickey Mouse oleh Disney. Bagi sebagian pengamat, karakter ini bukan sekadar ikon hiburan, melainkan juga bagian dari upaya merevisi persepsi publik. Sebelumnya, istilah “tikus kotor” (dirty mouse) menjadi ejekan terhadap Zionis. Tetapi melalui Mickey Mouse, asosiasi ini perlahan hilang. Walt Disney, sebagai pendiri perusahaan, bahkan tercatat memberikan dukungan finansial signifikan kepada rezim Zionis dalam konflik Gaza.
Ini menggambarkan bagaimana budaya populer dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk ulang citra suatu kelompok di mata dunia. Ini contoh saja bagi perang opini dan perang kognitif yang menjadi tren dunia.
Contoh lainnya, operasi militer kompleks yang dilakukan oleh Kelompok Perlawanan Palestina di Gaza ysng menandai babak baru dalam dinamika Asia Barat. Operasi ini mengguncang fondasi kekuasaan Zionis, membuka jalan bagi perubahan besar di Kawasan. Situasi saat ini bukan hanya menjadi pertarungan fisik, melainkan juga perang narasi, di mana media menjadi medan tempur utama. Dalam konteks ini, siapa yang mampu menguasai opini publik akan memiliki keunggulan strategis.
Semuanya terbukti melalui demo besar-besaran oleh rakyat negara-negara Barat yang pemerintahnya mendukung penjajah zionis. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa konflik tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, teknologi komunikasi modern, mulai dari media sosial hingga platform berita global, telah menjadi alat utama dalam membentuk persepsi global tentang penjajahan oleh pendudukan ini.
Rezim Zionis sendiri memanfaatkan teknologi media secara massif untuk mempertahankan citranya di tingkat internasional. Hollywood, Disney, dan jaringan berita global seperti BBC menjadi alat untuk memanipulasi opini publik, mengalihkan perhatian dari kekejaman yang dilakukan di Gaza, dan membentuk narasi yang menguntungkan mereka. Ini menunjukkan bagaimana media telah menjadi senjata yang sama pentingnya dengan tank atau pesawat tempur.
Begitulah keadaannya sehingga, pers Indonesia harus menemukan kembali elan jati dirinya sejak semula di era awal abad dua puluh sebagai bagian tak terpisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia.
Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada sejauh mana pihak lawan dalam kasus khususnya Palestina mampu menggunakan media untuk melawan narasi tersebut. Jika pihak Perlawanan gagal memanfaatkan kekuatan media, dominasi narasi global akan tetap berada di tangan Zionis.
Contoh lain adalah Turki. Dia muncul sebagai aktor penting dengan strategi yang ambigu. Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang memiliki ambisi untuk menghidupkan kembali kejayaan Kekaisaran Ottoman, memanfaatkan media untuk memperluas pengaruh politik dan budaya. Secara retorik, Turki menampilkan diri sebagai pembela Palestina, tetapi melakukan langkah-langkah tersembunyi, termasuk kolaborasi dengan Badan Intelijen Barat, menunjukkan arah yang bertentangan.
Selain itu, industri hiburan Turki yang mendominasi Kawasan menjadi alat untuk menyebarkan pengaruh budaya, memperkuat posisi geopolitik negara tersebut di Asia Barat. Strategi ini menunjukkan bagaimana media tidak hanya menjadi alat propaganda, tetapi juga instrumen kekuatan lunak untuk memperluas pengaruh politik dan budaya.
Di tengah ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina, media menjadi senjata utama. Tanpa kekuatan militer yang sebanding, mereka menggunakan media untuk menunjukkan realitas penjajahan, mengungkap kekejaman rezim Zionis, dan memenangkan hati dunia. Keberhasilan ini terlihat dari meningkatnya simpati global terhadap perjuangan Palestina, meskipun mereka menghadapi tekanan besar dari kekuatan besar yang mendukung Israel. Sehingga dalam perang Gaza ratusan jurnalis gugur bergelimpangan oleh timah panas zionis.
Masa Depan Perang dalam Era Media
Perang di Asia Barat, khususnya pasca-2023, menunjukkan bahwa medan pertempuran tidak lagi terbatas pada peralatan keras dan kekuatan fisik. Media dan budaya telah menjadi instrumen utama untuk memengaruhi hasil konflik. Teknologi modern memungkinkan berbagai pihak untuk membentuk narasi, memanipulasi opini publik, dan menciptakan persepsi global yang mendukung kepentingan mereka.
Dalam konteks ini, rezim Zionis memanfaatkan media sebagai alat untuk menyelamatkan citranya, sedangkan pihak Perlawanan Palestina menggunakan media untuk menunjukkan kebenaran. Sementara itu, Turki memanfaatkan media untuk memperkuat pengaruh regionalnya.
Sebagaimana dinyatakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, “Media memiliki kekuatan yang lebih besar daripada bom atom karena mampu menghancurkan moral, pikiran, dan identitas masyarakat.” Ini adalah pengingat bahwa Perang Modern tidak hanya terjadi di medan perang fisik, tetapi juga di arena narasi dan budaya. Dan dimanakah kita akan meletakan pers kita kedepan, untuk ambil bagian dalam dinamika global ini.
Maka, masa depan konflik di Asia Barat—dan di dunia secara umum—akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan para aktor untuk menguasai alat-alat media. Negara atau kelompok yang gagal memanfaatkan kekuatan ini akan kehilangan pengaruh dan berisiko tertinggal dalam perang narasi global. Di titik ini, insan pers Indonesia duduk bersama merenungkan jejak perjalanan kita dan menentukan kembali arahnya ke depan. Bukan seperti keadaannya sekarang yang sibuk mencari keuntungan pribadi dan kelompok.***
Penulis Adalah Wartawan Senior di Papua





