Menang Salah, Kalah Lebih Salah, Kasihan Persipura…

Pelatih Pengganti Persipura Regi Aditya saat memberikan instruksi kepada pemain dari luar lapangan
Pelatih Pengganti Persipura Regi Aditya saat memberikan instruksi kepada pemain dari luar lapangan

Jayapura, Indotimur –

Menang besar pun belum tentu membuat hati suporter Persipura Jayapura tenang. Apalagi kalah. Di tengah perjalanan Pegadaian Championship Liga 2 musim 2026/2027, Mutiara Hitam seperti sedang menghadapi pertandingan yang lebih berat dari sekadar perebutan tiga poin: memenangkan kembali kepercayaan pendukungnya sendiri.

Persipura baru saja membukukan kemenangan telak 6-1 atas sesama wakil Tanah Papua, PSBS Biak, di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). Skor yang seharusnya menjadi alasan untuk tersenyum, merayakan gol, dan membicarakan kebangkitan tim kebanggaan Papua.

Namun, yang muncul justru beragam komentar kritis dari sebagian suporter fanatiknya.

Ada yang menganggap kemenangan itu belum cukup untuk membuktikan bahwa permainan Persipura sudah membaik. Ada pula yang mengingatkan agar tim tidak buru-buru dipuji hanya karena menang besar atas sesama tim asal Papua.

Di sinilah ironi Persipura terasa. Menang enam gol pun masih menyisakan pertanyaan. Kalau kalah, tentu kritik bisa lebih panjang lagi.

“Menang menggila, kalah gila. Biasa saja,” demikian salah satu komentar yang muncul dalam percakapan suporter Persipura 1963 di grup WhatsApp.

Kalimat itu terdengar keras. Namun, di baliknya, ada kerinduan yang mungkin jauh lebih besar daripada kemarahan: kerinduan melihat Persipura kembali menjadi tim yang disegani, bukan sekadar tim yang sesekali menang dengan skor mencolok.

Menang 6-1, tetapi Belum Membuat Suporter Puas

Kemenangan atas PSBS Biak memang layak dicatat. Mencetak enam gol dalam satu pertandingan bukan perkara kecil. Para pemain pantas mendapatkan apresiasi atas hasil yang mereka raih di lapangan.

Akan tetapi, bagi sebagian pendukung Persipura, kemenangan tersebut belum otomatis menjawab persoalan permainan tim.

Dalam diskusi di grup WhatsApp Persipura 1963, seorang suporter menilai narasi kemenangan terlalu berlebihan. Ia mengingatkan bahwa PSBS Biak disebut kerap mengalami kekalahan dengan selisih gol besar ketika menghadapi sejumlah lawan.

Suporter lainnya berpendapat bahwa hasil melawan PSBS belum bisa dijadikan ukuran mutlak untuk menilai perkembangan permainan Persipura, terutama karena tim masih berada dalam tahap awal kompetisi.

Ada pula yang menyampaikan kekecewaan terhadap pola permainan yang dianggap belum menunjukkan perubahan berarti.

“Kami berterima kasih untuk hasil ini, hanya tidak puas dengan permainan kayak main di tarkam,” demikian salah satu komentar suporter.

Komentar tersebut merupakan ekspresi kekecewaan sebagian pendukung, bukan gambaran seluruh suara publik Persipura. Namun, pesan yang muncul cukup jelas: kemenangan penting, tetapi cara tim bermain juga menjadi perhatian.

Bagi suporter yang telah lama mengikuti perjalanan Mutiara Hitam, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran. Mereka ingin melihat permainan yang terorganisasi, semangat juang yang konsisten, serta identitas tim yang membuat lawan segan.

Mereka tidak hanya ingin Persipura menang. Mereka ingin Persipura kembali terlihat seperti Persipura yang mereka kenal.

Bermain Jauh dari Rumah, Menanggung Tekanan Berlapis

Persoalan Persipura musim ini tidak berhenti pada hasil pertandingan. Mutiara Hitam juga harus menjalani laga di luar Jayapura, jauh dari rumah dan dukungan langsung masyarakat yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas klub.

Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, menjadi salah satu tempat mereka berjuang. Bagi pemain profesional, bertanding di stadion mana pun merupakan bagian dari pekerjaan. Namun, bagi klub dengan ikatan emosional yang kuat seperti Persipura, bermain jauh dari Papua membawa dimensi berbeda.

Persipura bukan sekadar nama klub. Bagi banyak orang Papua, Mutiara Hitam adalah kebanggaan, simbol perjuangan, dan bagian dari cerita keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika tim kesulitan menemukan konsistensi, kekecewaan suporter bisa terasa lebih dalam. Mereka tidak hanya memikirkan posisi di klasemen, tetapi juga masa depan klub yang selama bertahun-tahun menjadi kebanggaan bersama.

Bermain sebagai musafir membuat perjalanan itu semakin berat. Para pemain dituntut tetap fokus, sementara suporter harus menerima kenyataan bahwa tim kesayangan mereka belum dapat bertanding di hadapan publik Jayapura seperti yang diharapkan.

Di tengah situasi tersebut, kritik dan sindiran datang bertubi-tubi. Pemain dan tim pelatih harus menghadapi tekanan untuk segera membuktikan bahwa Persipura masih memiliki daya saing.

Namun, kritik juga perlu ditempatkan secara proporsional. Para pemain tetap manusia yang membutuhkan dukungan, sementara suporter berhak menyampaikan evaluasi terhadap permainan tim. Di antara keduanya, Persipura membutuhkan ruang untuk memperbaiki diri tanpa kehilangan semangat kebersamaan.

Dua Laga, Perombakan di Kursi Pelatih

Tekanan terhadap Persipura semakin terasa setelah manajemen melakukan perubahan pada jajaran kepelatihan menyusul hasil mengecewakan dalam dua pertandingan awal Championship Liga 2 musim 2026/2027.

Manajemen resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Andri Ramawi. Selain itu, pelatih fisik Nur Cholis Majid dan analis tim Noor Arief juga diberhentikan.

Keputusan tersebut menandai langkah evaluasi manajemen terhadap perjalanan tim pada awal musim.

Perubahan pelatih memang kerap menjadi pilihan ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Namun, pergantian di kursi kepelatihan bukan jaminan bahwa seluruh persoalan akan langsung terselesaikan.

Persipura tetap membutuhkan pembenahan yang menyentuh banyak aspek, mulai dari konsistensi permainan, kesiapan fisik, koordinasi antarpemain, hingga ketenangan menghadapi tekanan pertandingan.

Kemenangan 6-1 atas PSBS Biak bisa menjadi modal untuk membangun kepercayaan diri. Akan tetapi, ujian sesungguhnya adalah membuktikan bahwa hasil tersebut bukan sekadar ledakan sesaat.

Para pendukung tentu berharap perubahan di jajaran kepelatihan diikuti perkembangan nyata di lapangan. Mereka ingin melihat Persipura mampu menghadapi lawan dari berbagai daerah dengan permainan yang meyakinkan.

Sebab, pada akhirnya, kepercayaan suporter tidak dibangun oleh satu kemenangan besar, melainkan oleh rangkaian penampilan yang konsisten.

Kabar dari Lukas Enembe, Harapan yang Mulai Menyala

Di tengah berbagai kritik dan tekanan, kabar menggembirakan datang dari manajemen Persipura.

Manajer Persipura, Eveline Sanita Injaya, memastikan Stadion Lukas Enembe disiapkan untuk menyambut kembali Mutiara Hitam pada putaran kedua Pegadaian Championship 2026/2027 yang dijadwalkan berlangsung mulai November 2026, dengan dukungan penonton.

Kabar ini membawa harapan tersendiri bagi masyarakat Papua.

Bagi Persipura, kembali bermain di Jayapura bukan hanya soal berpindah stadion. Ada atmosfer yang berbeda ketika para pemain memasuki lapangan dengan dukungan langsung dari masyarakatnya sendiri.

Sorak-sorai penonton, nyanyian suporter, serta kebanggaan mengenakan seragam merah-hitam di hadapan publik sendiri dapat menjadi energi tambahan bagi tim.

Bagi suporter, kesempatan kembali menyaksikan Persipura di Stadion Lukas Enembe juga berarti kesempatan untuk kembali merasakan kedekatan dengan klub yang mereka cintai.

Namun, kepastian kesiapan stadion dan jadwal pertandingan kandang tetap perlu diikuti konfirmasi teknis mengenai penyelenggaraan pertandingan serta ketentuan kehadiran penonton.

Jika rencana tersebut terealisasi, putaran kedua bisa menjadi momentum penting bagi Persipura untuk memperbaiki perjalanan musim ini. Tim tidak hanya akan mengejar hasil di lapangan, tetapi juga berkesempatan merajut kembali hubungan emosional dengan pendukungnya.

Persipura Tidak Hanya Membutuhkan Kemenangan

Pada akhirnya, kisah Persipura musim ini bukan semata-mata tentang menang 6-1 atau menerima kritik setelah pertandingan.

Ini adalah kisah tentang klub besar yang sedang berusaha menemukan kembali pijakannya, tentang pemain yang harus bertanding jauh dari rumah, tentang manajemen yang dituntut mengambil keputusan tepat, dan tentang suporter yang tetap mengikuti setiap langkah tim meski rasa kecewa terus datang.

Sebagian suporter mungkin terdengar keras ketika menyampaikan kritik. Mereka mempertanyakan kualitas permainan, meragukan hasil tertentu, bahkan menolak larut dalam euforia kemenangan. Namun, di balik semua itu, ada harapan agar Persipura tidak terus berjalan di tempat.

Persipura membutuhkan kemenangan, tentu saja. Namun, klub ini juga membutuhkan arah pembinaan yang jelas, stabilitas tim, dukungan manajemen, dan suasana kompetisi yang memungkinkan para pemain berkembang.

Yang tidak kalah penting, Persipura membutuhkan kembali rumahnya sendiri.

Sebab, bagi Mutiara Hitam, bermain di hadapan masyarakat Papua bukan sekadar urusan lokasi pertandingan. Itu adalah bagian dari identitas dan ikatan yang membuat klub ini berarti bagi banyak orang.

Menang 6-1 memang patut disyukuri. Kritik suporter pun perlu didengar. Akan tetapi, jangan sampai perdebatan tentang satu hasil pertandingan membuat semua pihak lupa bahwa perjalanan musim masih panjang.

Persipura belum selesai. Perjuangannya masih berlangsung.

Dan ketika November tiba, jika Mutiara Hitam benar-benar kembali ke Stadion Lukas Enembe dengan dukungan penonton, harapan itu mungkin akan menemukan tempatnya lagi.

Bukan berarti semua persoalan akan langsung hilang. Namun, setidaknya Persipura akan kembali berjuang lebih dekat dengan rumah, dengan masyarakat yang selama ini menjadikan klub itu bagian dari kebanggaan mereka.

Karena pada akhirnya, suporter tidak menuntut Persipura selalu menang. Mereka hanya ingin melihat tim kesayangannya berjuang dengan sungguh-sungguh, bermain dengan identitasnya, dan memberikan alasan untuk kembali percaya.

Menang jangan cepat berpuas diri. Kalah jangan kehilangan arah. Sebab, bagi Persipura, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, melainkan juga kepercayaan dan kebanggaan masyarakat Papua. (odeodata h julia)

 

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi