Ribuan Ikan Bandeng Mati di Venue Dayung Jayapura
Pemkot Turun Tangan Cek Dugaan Pencemaran

Torang Tanya Wali Kota Jawab terungkap Ribuan ikan bandeng mati di Venue Dayung
Torang Tanya Wali Kota Jawab terungkap Ribuan ikan bandeng mati di Venue Dayung

Jayapura, Indotimur —

Ribuan ikan bandeng yang dipelihara masyarakat menggunakan keramba di kawasan Venue Dayung, Kota Jayapura, Papua, dilaporkan mati secara massal.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura setelah warga menyampaikan keluhan dalam ruang publik “Torang Tanya Wali Kota Jawab”, Senin (28/9/2026).

Wakil Wali Kota Jayapura, H. Rustan Saru, mengatakan pemerintah akan segera mengecek penyebab kematian ikan tersebut, termasuk kemungkinan adanya persoalan kualitas air di sekitar lokasi keramba.

“Hari ini ada beberapa aduan yang masuk. Ada masalah guru-guru sekolah minggu, ada juga masalah pencemaran lingkungan, menyangkut sekolah dan persoalan kemasyarakatan lainnya,” kata Rustan.

Namun, dari sejumlah laporan tersebut, persoalan kematian ikan bandeng di kawasan Venue Dayung menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian pemerintah.

“Yang sangat perlu kita lakukan hari ini adalah berkaitan dengan keramba masyarakat di Venue Dayung yang memelihara ikan bandeng. Begitu ikan ditebar di keramba, beberapa saat kemudian mati. Artinya, ada persoalan lingkungan yang perlu kita antisipasi,” ujarnya.

Pemkot Turunkan Tim Lintas Sektor

Menindaklanjuti laporan tersebut, Pemkot Jayapura akan mengerahkan tim lintas sektor untuk melakukan pemeriksaan langsung di kawasan Venue Dayung.

Tim tersebut melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) yang menangani bidang perikanan, lingkungan hidup, pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR), serta pariwisata.

Pemeriksaan dilakukan untuk mencari tahu penyebab kematian ikan dalam jumlah besar. Pemerintah juga akan mengambil sampel air untuk dianalisis lebih lanjut.

“Kita akan mengecek faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan ikan ini cepat mati,” kata Rustan.

Pemkot Jayapura juga berencana mengambil sampel pembanding di wilayah Tobati dan Enggros.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah persoalan kualitas air hanya terjadi di sekitar Venue Dayung atau juga ditemukan di wilayah perairan lainnya.

“Sebagai perbandingan, kita akan mengecek di lokasi Tobati dan Enggros. Kalau memang hanya fokus di Venue Dayung, berarti ada yang perlu kita cek di sekitar Venue Dayung,” ujarnya.

Warga Sebut 7.000 Ikan Mati

Sekretaris Kelompok Menduk Sau Mandiri, Lurah Sanyi, mengatakan kematian ikan tidak hanya menimpa ikan yang dipeliharanya, tetapi juga bibit ikan bantuan Pemkot Jayapura.

Menurut dia, sekitar 7.000 ikan mati, terdiri dari sekitar 2.000 ikan milik kelompok dan 5.000 ikan yang merupakan bantuan pemerintah.

“Pencemaran lingkungan mengakibatkan ikan bandeng dan bibit ikan bandeng bantuan dari Pemerintah Kota Jayapura kepada tiga kampung, yaitu Tobati, Enggros dan Nafri, ikut mati. Jumlahnya sekitar 7.000 ekor, dengan 2.000 ekor milik kami sendiri dan 5.000 ekor bantuan pemerintah,” kata Lurah.

Ia menduga kematian ikan berkaitan dengan kondisi air setelah hujan. Menurut dia, limbah diduga mengalir melalui Kali Acai dan kemudian berdampak ke kawasan Venue Dayung.

“Pada saat hujan limbah keluar melalui Kali Acai dan dampaknya kami terima di Venue Dayung,” ujarnya.

Lurah mengatakan perubahan kondisi air terlihat dari warna air yang berubah menjadi kekuningan dan muncul bau tidak sedap. Setelah kondisi tersebut terjadi, ikan-ikan di keramba mulai mati.

“Ciri-ciri air tercemar itu berbau, air berwarna kuning, baunya tidak enak dicium dan ikan mati,” katanya.

Warga Minta Pemerintah Segera Mencari Penyebab

Lurah mengatakan kejadian tersebut sebelumnya belum pernah dialami kelompoknya. Karena itu, ia memilih menyampaikan persoalan tersebut secara langsung kepada Pemkot Jayapura melalui forum “Torang Tanya Wali Kota Jawab”.

“Saya datang ke ruang publik Torang Tanya Wali Kota Jawab untuk bertemu langsung dengan Bapak Wakil Wali Kota dan menyampaikan hal yang terjadi di Venue Dayung, yang mengakibatkan ikan bandeng milik kami dan kelompok kami mati,” ujarnya.

Sementara itu, Rustan mengatakan dugaan pencemaran tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengujian sampel air.

Ia mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Kalau memang itu masalah sampah, masyarakat harus dapat mengontrol perilaku kita agar jangan membuang sampah sembarangan. Buanglah sampah pada tempatnya,” kata Rustan.

Menurut dia, menjaga kualitas lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan manusia, tetapi juga keberlangsungan ekosistem dan biota perairan.

“Kalau lingkungan kita bersih dan sehat, bukan hanya manusia yang sehat, tetapi biota-biota laut juga sehat dan terlindungi dari pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan lapangan dan pengujian sampel air nantinya akan menjadi dasar pemerintah untuk menentukan penyebab kematian ribuan ikan tersebut serta langkah penanganan yang diperlukan. (clo/YM)

 

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi