Biak, Indotimur –
Persaingan sengit mewarnai ajang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Katolik Tingkat Provinsi Papua. Kontingen Kabupaten Biak Numfor sukses mengubur ambisi Kota Jayapura untuk menyapu bersih seluruh kategori lomba paduan suara setelah keluar sebagai champion pada kategori Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC).
Tampil di penghujung perlombaan, Kamis (29/10/2026), Biak Numfor berhasil mengungguli rival terberatnya, Kota Jayapura, dengan selisih nilai yang sangat tipis.
Biak Numfor meraih nilai 80,20, sedangkan Kota Jayapura harus puas di posisi kedua dengan nilai 80,00. Selisih hanya 0,20 poin membuat persaingan kedua kontingen berlangsung ketat hingga pengumuman hasil akhir.
Sementara itu, Kabupaten Jayapura menempati posisi ketiga dengan nilai 76,00. Adapun kontingen yang berada di posisi keempat Kabupaten Keerom memperoleh nilai 74,03 dan meraih predikat silver.
Kemenangan ini menjadi tambahan prestasi bagi Biak Numfor sekaligus memupus harapan Kota Jayapura untuk mendominasi seluruh kategori paduan suara dalam ajang Pesparani II Papua.
Juri Beri Catatan, Bukan Sekadar Soal Teknik Vokal
Di balik ketatnya persaingan, dewan juri memberikan sejumlah catatan penting bagi para peserta. Tiga juri yang bertugas adalah Pastor Bernard Antonius Rahawarin, Pr., selaku ketua, didampingi Allesandro Andriano Egbertus Pinangkaan dan Bayu Nerviadi.
Pastor Bernard menekankan bahwa keberhasilan sebuah paduan suara tidak hanya ditentukan oleh kualitas vokal masing-masing penyanyi, tetapi juga kemampuan seluruh anggota menyatukan suara dalam satu kesatuan harmonis.
Menurutnya, keberhasilan bernyanyi tercapai ketika seluruh suara dapat menyatu dalam frekuensi dan harmoni yang tepat.
“Ketika Anda bernyanyi, jika semua terserap masuk ke dalam frekuensi yang ada, itu baru sukses,” tuturnya.
Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa paduan suara membutuhkan kerja sama, kepekaan musikal, serta kemampuan setiap penyanyi untuk meleburkan suaranya ke dalam harmoni kelompok.

Bahasa Latin Jadi Perhatian Khusus
Sementara itu, juri Allesandro Andriano Egbertus Pinangkaan menyoroti ketepatan pelafalan bahasa Latin dalam tiga lagu yang dibawakan para peserta, yakni Jubilate Deo, Cantate Domino, dan Rorate Caeli
Menurutnya, kejelasan pengucapan, terutama pada akhir kata dan penempatan tekanan, menjadi aspek penting yang harus diperhatikan oleh setiap peserta.
Ia juga mendorong panitia dan para pelatih untuk memperkuat pembinaan melalui diskusi dan pendalaman materi sebelum kompetisi berikutnya.
“Untuk panitia di tahun berikutnya, mari kita diskusikan materi ini supaya lebih mantap. Jadi, pembinaan kita berjalan dan diskusi lebih dimatangkan, sehingga semua belajar bersama-sama,” imbaunya.
Penjiwaan dan Euforia Harus Dikendalikan
Adapun juri Bayu Nerviadi memberikan perhatian pada teknik penampilan peserta, mulai dari cara berbaris ketika memasuki panggung hingga kesiapan saat mulai bernyanyi.
Menurutnya, kerapian penampilan perlu dipersiapkan sejak awal agar peserta mampu tampil lebih percaya diri dan profesional.
Ia juga mengingatkan pentingnya penjiwaan dalam membawakan lagu. Bernyanyi bukan sekadar menghasilkan suara yang indah, melainkan menyampaikan karakter dan penghayatan lagu secara tepat.
Bayu menilai, euforia yang berlebihan di tengah penampilan dapat mengganggu konsistensi kualitas suara. Karena itu, setiap kelompok perlu menjaga keseimbangan antara ekspresi, penghayatan, dan kontrol vokal.
“Penjiwaan menjadi catatan tersendiri karena menyanyi itu bukan sekadar menyanyi, tetapi juga penjiwaan,” katanya.
Kemenangan Biak Numfor di kategori PSDC menjadi salah satu momen penting dalam persaingan Pesparani II Papua. Selisih nilai yang sangat tipis dengan Kota Jayapura menunjukkan bahwa kualitas dan kesiapan setiap kontingen menjadi penentu dalam perebutan gelar juara. (Tim Humas LP3K Provinsi Papua)




