Persipura dan Waktu Tuhan
Oleh : Abdul Munib

Harapan semua penduduk Papua yang tersebar di enam provinsi adalah satu ; Persipura bisa berlaga kembali di Liga Satu. Namun harapan yang tinggal selangkah lagi itu kandas di keunggulan Adhyaksa FC (0-1) di Stadion Lukas Enembe, Jumat sore kemarin.

Saya sendiri nonton bareng di Nabire. Penonton membludak di halaman bekas bandara lama Nabire. Gubernur Pilot Meki Nawipa juga tampak nonton bersama masyarakat. Alam Nabire seakan menangis. Usai peluit panjang ditiup oleh wasit asal Uzbekistan Asker Nadjafaliev, raut wajah murung tampak dari penonton yang pulang dalam guyuran hujan deras. Di stadion LE penonton yang kecewa dengan hasil akhir melakukan tindakan anarkis.

Itulah sepakbola. Bukan hanya di Papua. Di Eropa yang katanya masyarakatnya modern sekali pun, kerusuhan di sepakbola bisa terjadi. Yang kita perlu renungkan adalah bagaimana kita bersama masyarakat memikirkan Persipura berjaya kembali.

Kita pernah Degradasi dan Bangkit Kembali

Setelah bertengger secara berwibawa dan terhormat di kancah nasional Perserikatan dalam satu dasawarsa, 1980-1990, Persipura dipukul PSDS Deli Serdang 2-0 di Stadion Senayan. Degradasi yang pahit. Tapi Bupati Karafir, pelatih HB Syamsi dan generasi emas angkatan Kapten Ritam Madubun berhasil mengangkat kembali wibawa Persipura ke Liga Indonesia (Ligina) 1994  hingga bertahan 28 musim kompetisi setelahnya.

Kisah pedih ini Degradasi 1990 ini dimuat di sebuah media Jakarta, “Persipura nasibmu kelam sehitam kulitmu”, begitulah judul beritanya,  koran itu bahkan disimpan Gustaf Pui. “Saya menyimpannya sebagai cambuk untuk bangkit Kembali”.

Pelatih PPLP saat itu, HB Syamsi sering kali membacakan koran itu di lapangan Mandala di depan anak-anak asuhnya yang masih usia remaja. “Empat tahun kemudian perjuangan kami terjawab. Waktu Tuhan tiba, kami kembali ke kasta papan atas lagi di 1994,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Gute itu mengenang cerita kebangkitan Persipura.

Di kompetisi liga Perserikatan tahun itu Persipura  bahkan diselamatkan adu  koin. ” Itulah jalan Tuhan dan Waktu Tuhan.”  Gute mencatat itu semua. Selama 28 tahun Persipura bertengger di Liga papan atas, sampai kemudian jatuh degradasi lagi tahun 2022. Kali ini dikarenakan Barito Putra dan Persib hasil drow 1-1, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar Bali.

Secuil Kliping Degradasi 1990 di Senayan Persipura vs PSDS Deli Serdang

Persipura menjuarai Kompetisi Perserikatan Divisi I pada tahun 1978/1979. Tim berjuluk Mutiara Hitam ini berhasil menjadi juara edisi perdana Divisi I setelah mengalahkan Persipal Palu dengan skor 4-2. Sebelumnya di tahun 1976 Persipura memenangkan Piala Presiden.

Sejak masuk di kasta tertinggi Perserikatan, Persipura selalu berada di papan atas bersama nama besar Persija, Persebaya, PSMS Medan, PSM Ujung Pandang dan Persib Bandung. Kasta Perserikatan ini bercorak kedaerahan. Di kategori kompetisi lain ada liga profesional yang disebut Galatama yang bercorak klub perusahaan.

Degradasi dari kasta tertinggi Liga Perserikatan musim kompetisi 1989/1990 jatuh saat melawan PS Deli Serdang di stadion Senayan 7 Maret 1990. Agung Guliono dari PSDS Deli Serdang berhasil melewati hadangan kiper Persipura Jayapura, Markus Woof yang terjatuh dan gol pun tercipta untuk keunggulan PSDS Deli Serdang.

Syahrial Effendy dan rekan dari PSDS Deli Serdang berhasil unggul atas Persipura Jayapura 2-0, Suherman dan Agung Guliono pencetak dari dua gol tersebut dan memastikan tim Traktor Kuning tetap bertahan di Divisi Utama, sementara Persipura Jayapura harus turun ke Divisi I.

Susunan pemain Persipura Jayapura saat itu :

Markus Woof; Tirsan Mauri, Ritham Madubun, Agus Pigai, Mathias Kaisyri, Mettu Duaramuri, Alfred Repasi, Elihut Sayuri, Thomas Welly, Mathias Woof, Daniel Mauri.(Kliping koran Berita Yudha).

Jalan Sunyi melewati Lubang Jarum Adu Koin

Tokoh sederhana asal Lebak Siu Kabupaten Tegal itu namanya HB Samsi. Anak-anak bola di PPLP dok tujuh biasa memanggilnya Rambut Putih. Guru olah raga yang tekun otodidak ini sepintas hanya guru biasa seperti guru lainnya. Namun dj rumahnya di bilangan Dok Lima Bawah, bacaannya buku-buku pelatih ternama dunia yang  penuh coretan pena karena ia terjemahkan sendiri bermodal kamus bahasa Inggris. Menandakan referensi yang dibacanya buku standar nasional.

Ia punya legasi sebagai pelatih fisik yang paham bagaimana seorang atlet dibentuk. Baik dari sisi volume oksigen maksimum (VO-mak), kecepatan lari, aerobik, motorik – tendangan, passing, kontrol  , heading bola, serta kelenturan. Dia punya belasan variabel alat mengukur fisik pemain. Data ini yang biasa dia pakai untuk menentukan siapa yang akan turun bermain di lapangan. Tak ada sistem suka tidak suka. Cara ini yang membuat pemain tunduk pada keputusan pelatih dan tak bisa egois. Penulis di era 1993 sering ikut meliput menyaksikan bagaimana HB Syamsi melatih Ritham Madubun dkk. Mereka adalah generasi emas PPLP. Langganan juara kompetisi antar 8 PPLP se Indonesia yang dibiayai anggaran Kemendikbud.

Materi pemain yang sama dipakai dalam PON Tiga Belas di Jakarta. Dibawah pelatih Festus Yom, sepakbola Tim Pon Papua meraih medali emas, mengalahkan Aceh. Peristiwa Gol Pantat David Saidui mengingatkan betapa kokohnya tim ini.

Juga materi yang sama kemudian dipakai dalam kompetisi Divisi Satu Perserikatan. Jalan Persipura terseok di perjalanan, dibawah asuhan pelatih Hengky Rumere. Saudaranya Persidafon dibawah asuhan pelatih Festus Yom menanjak sejak awal, bahkan menjuarai Group.

Melihat ada persoalan gawat dalam perjalanan tim, ketua Persipura saat itu Bupati Jayapura Pak Karafir mengganti pelatih. Pelatih lama dibantu HB Syamsi. Karena padatnya jadwal bahkan penyerahan kepelatihan di laksanakan di Kalimantan. Beberapa pertandingan sisa di tangan HB Syamsi hanya membawa 14 pemain. Untuk masuk runner up grup Persipura harus adu koin, karena klub lain punya poin dan jumlah gol yang sama. Persiku Kudus yang jadi juara Grup. Di Group yang satunya Persidafon jadi juara grup.

Di semifinal empat klub disilang. Juara grup lawan runner up klub grup lainnya. Persipura ketemu saudaranya Persidafon di semifinal. Derbi ini dimenangkan Persipura 9-0 di Stadion Senayan. Final lawan Persiku Kudus menang 3-0. Degradasi empat tahun terobati. Persipura masuk Liga Indonesia (Ligina) dengan  pelatih berikutnya Tumpak Sihite.

Saat penulis bertanya kepada HB Syamsi mengapa tidak melatih Persipura di Ligina setelah membawa ke kasta tertinggi ? Dia menjawab santai. “Saya ditugaskan hanya mengangkat Persipura dari jurang degradasi oleh pimpinan, Pak Bupati Karafir Selanjutnya akan ada orang lain yang melanjutkan perjuangan ini. Saya yakin ada Waktu Tuhan untuk anak-anak menjadi juara. Persipura perlu mencatat etape ini bahwa Jalan Koin adalah Jalan Tuhan, Jalan kerendahan hati. Karena disitu pemain dan pelatih sudah tidak berperan lagi, ” ujarnya. Tidak lama sehabis itu, HB Syamsi pulang ke Jawa, ikut anaknya di Malang. Mewariskan mobil VW Kodoknya pada Ritham Madubun dan Vespa tuanya ke penulis.

Titel Empat Bintang Persipura

Masuknya Walikota MR Jambu dan Rudi Maswi dalam kepengurusan Persipura membawa tenaga baru. Persipura Jayapura menjuarai Liga Indonesia (Divisi Utama) 2005 setelah mengalahkan Persija Jakarta 3-2 dalam laga final dramatis via perpanjangan waktu. Gelar perdana bagi tim berjuluk “Mutiara Hitam” ini diraih pada 25 September 2005 di Stadion Gelora Bung Karno, menandai awal kebangkitan dan dominasi mereka di sepak bola Indonesia.

Persipura Jayapura menjuarai Indonesia Super League (ISL) musim 2008-2009, mengunci gelar pada 17 Mei 2009 . Juga musim 2010-2011, Persipura kembali juara. Juga di tahun 2013. Selain empat gelar liga tersebut, Persipura juga menjuarai Indonesia Soccer Championship (ISC) A pada tahun 2016.

Sekilas sejarah Sepak Bola di Papua

Sepak bola di Papua berkembang pesat di era kolonial Belanda (terutama 1925-1960an), Diperkenalkan oleh misionaris (Zending) melalui sekolah dan asrama, sepakbola kemudian membentuk kultur yang kuat di Tanah Papua. Permainan ini menjadi alat pendidikan dan sosial yang akhirnya memicu terbentuknya klub-klub lokal serta liga sepak bola terorganisir, cikal bakal Persipura.

Dalam beberapa catatan dijelaskan bahwa sepakbola diperkenalkan oleh misionaris Belanda, Dr. Pdt. I.S. Kijne, di Sekolah Guru Miei, Wasior, Papua Barat. Olahraga ini cepat meluas, menjadikan sepak bola bagian integral dari aktivitas kampung. Peran Zending dan guru-guru zending dari Ambon dan Sanget Manado cukup kuat. Misionaris Belanda, menggunakan sepak bola untuk menanamkan sportivitas dan kebersamaan di asrama-asrama.

Struktur Kompetisi (1950-1963) menunjukan adanya berbagai kesebelasan yang berafiliasi dengan Koninklijk Nederlands Voetbal Bond (KNVB), federasi sepak bola Belanda.Voetbal Bond Hollandia (VBH). Kompetisi lokal resmi, seperti VBH (1952-1955), dibentuk dan mengadakan kompetisi rutin.

Ada Hollandia-Cup (1959) misalnya. Kompetisi tingkat tinggi, Ere Divisie Hollandia (EDH), mempertemukan tim-tim teratas untuk memperebutkan Hollandia Cup. Setiap 30 April diadakan pertandingan final, dan sepak bola sering menjadi ajang persaingan sengit antar kampung yang terkadang menimbulkan pertikaian.

Dari proses kompetisi yang konsisten lahir pemain Papua berbakat Daniel Hanasbey. Dia  putra Papua pertama yang berkarier profesional di Belanda pada 1959. Realita ini menunjukkan kualitas teknik tinggi pemain Papua saat itu.

Pengaruh Belanda dalam sepak bola Papua meninggalkan warisan kultur sepak bola yang kuat, yang terus berkembang pasca penyerahan wilayah ke Indonesia, hingga berdirinya Persipura pada 25 Mei 1965.

Sepak bola di Papua pada tahun 1960-an merupakan periode transisi penting, di mana bakat-bakat lokal mulai menonjol di tengah perubahan politik dari masa pemerintahan Belanda menuju integrasi ke Indonesia.

Berikut adalah gambaran sepak bola Papua di tahun 1960-an atau Era VBH (Voetbalbond Hollandia). Di awal 1960-an, kompetisi terorganisir sudah berjalan di Hollandia (sekarang Jayapura) di bawah naungan VBH yang berkonsultasi dengan asosiasi sepak bola Belanda (KNVB).

Liga ini mencakup klub-klub seperti KSM (Kami Suku Mebri) dan LOS (Latihan Olahraga). Pemain Papua pertama ke Eropa pada tahun 1960-an adalah Daniel Riauw Hanasbey. Kedua Dominggus Waweyai. Salah satu bakat terbesar era tersebut adalah Dominggus Waweyai, pemain asal Hollandia yang menonjol karena kecepatannya. Ia menjadi pemain Papua yang menembus level nasional memperkuat Persija Jakarta. Pernah juga main di Timnas.

Persipura Jayapura didirikan pada tahun 1963, yang menjadi wadah utama bakat-bakat Papua dalam kompetisi nasional Indonesia, didukung oleh semangat masyarakat setempat. Era ini menampilkan pemain legendaris seperti Hengki Heipon. Pada tahun 1960, tim VBH sudah melakukan pertandingan persahabatan internasional dengan klub dari Port Moresby, Papua Nugini.

(Penulis Adalah Wartawan Senior dan Mantan Ketua PWI Papua)

 

 

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi