Jayapura, Indotimur –
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, mengapresiasi langkah Kapolresta Jayapura selaku Ketua Yayasan Colo Sagu yang terus mengangkat kegiatan tentang sagu dan menjaga keberlanjutan pangan lokal khas Papua tersebut.
Kepada wartawan, Walikota ABR menegaskan dirinya tumbuh besar dengan makanan pokok sagu. Ia bahkan menceritakan pengalaman pribadinya bahwa hasil dari menjual sagu digunakan untuk membayar mahar pernikahan.
“Saya besar makan sagu sampai bisa besar seperti sekarang. Dulu kami tidak punya uang. Untuk bayar mahar istri saja dari hasil jual sagu,” ceritanya usai mengikuti Talk Show Bincang Sagu. Rabu. (20/5/2026).
Ia mengatakan masyarakat Papua sejak dahulu hidup sangat bergantung pada pohon sagu, karena hampir seluruh bagian pohon dapat dimanfaatkan.
Menurutnya, sagu bukan hanya sumber makanan, tetapi juga bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Papua. Batang, daun, hingga limbah sagu bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk bahan bangunan dan sumber pangan lain seperti ulat sagu.
Abisai juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolresta Jayapura atas penyelenggaraan kegiatan Colo Sagu atau bincang-bincang tentang sagu yang dinilai memberi wawasan serta ruang diskusi bagi masyarakat dan pemerintah untuk kembali melihat pentingnya pelestarian sagu di Tanah Papua, khususnya di Kota Jayapura.
Ia menyebut sejumlah wilayah yang masih memiliki potensi hutan sagu, seperti Yoka, Skouw, dan Nafri, yang menurutnya harus diselamatkan dan dipertahankan.
“Sagu adalah hidup. Kalau sagu hilang, maka identitas dan kehidupan masyarakat Papua juga akan hilang,” katanya.
Pemerintah Kota Jayapura, lanjut Abisai, akan terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian sagu dan mendorong agar sagu tidak hanya dipandang sebagai pangan lokal, tetapi juga bisa menjadi pangan nasional.
Ia juga mengingatkan ancaman berkurangnya lahan sagu akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pembangunan lainnya.
Selain itu, Abisai menegaskan pentingnya regulasi khusus untuk perlindungan sagu di Papua.
“Kota bukan berarti tidak ada hutan. Kota Jayapura tetap bagian dari Papua, dan Papua harus tetap memiliki sagu,” tegasnya.

Kapolresta Jayapura: Sagu Adalah Kehidupan dan Warisan Papua
Senada dengan itu Kapolresta Jayapura, Kombes Pol Fredrickus Williamson Agustinus Maclarimboen, mengatakan kegiatan “Colo Sagu” bertujuan untuk mengingatkan kembali seluruh pihak terhadap pentingnya sagu sebagai warisan dan sumber kehidupan masyarakat Papua.
Menurutnya, sagu telah ada sejak Tanah Papua ada dan menjadi anugerah Tuhan bagi masyarakat yang hidup dan menetap di Papua.
“Sagu ini sudah ada sejak tanah ini ada. Sagu adalah anugerah Tuhan bagi masyarakat Papua,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa luas hutan sagu saat ini mulai berkurang. Padahal, sagu memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat Papua, bukan hanya sebagai bahan pangan.
Kapolresta menjelaskan bahwa daun sagu dapat digunakan sebagai atap rumah, batang dan kulitnya dapat dimanfaatkan menjadi dinding maupun lantai rumah panggung. Karena itu, sagu memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi yang besar.
Ia menilai potensi sagu juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata Papua, misalnya dengan membuat miniatur rumah tradisional berbahan dasar sagu sebagai daya tarik wisata.
“Kalau bicara sagu, bukan hanya soal pangan. Di dalam sagu ada banyak manfaat dan nilai ekonomi yang bisa dikembangkan,” katanya.
Selain itu, ia menyebut hasil riset dari sejumlah perguruan tinggi menunjukkan bahwa sagu juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, seperti bioetanol.
Bahkan, menurutnya, serat sagu memiliki kualitas yang baik dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan komponen tertentu, termasuk material yang mampu menahan tekanan udara.
Kapolresta menegaskan bahwa seluruh bagian pohon sagu, mulai dari daun hingga akar, memiliki manfaat apabila dikelola dengan baik.
Karena itu, ia menilai penelitian dan pengembangan sagu sangat diperlukan, terutama untuk menghasilkan varietas unggul dengan masa panen yang lebih singkat.
“Sagu merupakan tanaman jangka panjang karena usia panennya bisa di atas 10 tahun. Ke depan kita berharap ada riset yang mampu menghasilkan sagu unggul dengan masa panen lebih pendek,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa bulan depan akan digelar sesi lanjutan Festival Sagu serta seminar tentang ekosistem sagu yang membahas seluruh aspek, mulai dari budidaya hingga pemanfaatannya. (julia)




