Jayapura, Indotimur —
Di tengah derasnya arus transformasi digital, media massa dituntut terus beradaptasi agar tetap relevan. Namun, secanggih apa pun teknologi berkembang, kualitas jurnalisme tetap ditentukan oleh manusia. Pesan itulah yang dibagikan Juneka Subaihul Mufid, jurnalis Jawa Pos, saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema “Transformasi Industri Media Massa di Era Perkembangan Teknologi Digital” yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua.
Dalam forum yang diikuti para jurnalis di Jayapura, Juneka berbagi pengalaman bagaimana Jawa Pos terus berinovasi agar mampu bertahan di tengah perubahan perilaku pembaca yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform digital.
“Kami berbagi bagaimana Jawa Pos bisa tetap eksis di era digital, termasuk strategi yang kami lakukan untuk beradaptasi dengan perubahan. Harapannya, pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi media-media lokal di Papua agar terus berkembang dan semakin bergairah,” ujarnya.
Menurut Juneka, media lokal memiliki peran penting sebagai pengawal pembangunan daerah. Karena itu, kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus dibarengi dengan komitmen menjaga kualitas jurnalisme dan kepercayaan publik.
Salah satu topik yang paling banyak menarik perhatian peserta adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam proses produksi berita. Menurutnya, AI merupakan alat yang dapat membantu kerja jurnalistik, tetapi bukan pengganti wartawan.
“AI itu sifatnya hanya pendamping. Di Jawa Pos, kami memanfaatkannya untuk membantu pengecekan ejaan, tata bahasa, atau memperbaiki kesalahan penulisan. Tetapi isi berita, data, dan unsur 5W+1H tetap harus diperoleh langsung oleh wartawan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa proses peliputan, verifikasi fakta, hingga menentukan sudut pandang pemberitaan tidak bisa diserahkan kepada teknologi. Seorang wartawan tetap harus turun ke lapangan, melakukan konfirmasi kepada narasumber, serta memastikan setiap informasi telah memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.
“AI tidak memiliki tanggung jawab etik. Wartawan yang terikat dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers. Karena itu, keputusan editorial, verifikasi data, hingga memastikan berita memenuhi prinsip cover both sides tetap menjadi tanggung jawab jurnalis,” katanya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai tantangan media di era digital, mulai dari perubahan pola konsumsi informasi hingga pemanfaatan teknologi dalam ruang redaksi. Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia Papua berharap insan pers di daerah dapat semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalisme yang profesional.
Bagi generasi muda yang kini akrab dengan AI, media sosial, dan informasi serba cepat, pesan utama dari diskusi tersebut sederhana: teknologi boleh berubah, tetapi kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab. (Yose Maria)




