Surabaya, Indotimur —
Gedung megah menjulang tinggi mengundang decak kagum. Saat tiba di Graha Pena milik Jawa Pos Grup. Masuk dalam ruang redaksi agak sedikit ketat dan membutuhkan kartu akses untuk bisa masuk ke dalam ruang redaksi.
Di layar-layar komputer, naskah berita terus bergerak, diperbarui hampir tanpa jeda. Di sudut lain, beberapa editor terlihat serius menatap layar monitor dan tak bergeming saat rombongan kami masuk ke ruang redaksi.
Tidak ada suara yang berlebihan, tetapi ritme kerja di ruang redaksi Graha Pena Jawa Pos terasa begitu hidup.
Bagi kami, enam jurnalis dari Kota Jayapura, Papua, yang datang bersama para pimpinan redaksi dalam kunjungan yang di fasilitasi Bank Indonesia Provinsi Papua, suasana itu menjadi pengalaman yang membuka cara pandang baru terhadap dunia jurnalistik.
Selama ini pembaca hanya melihat berita yang sudah selesai. Namun, di balik satu halaman koran atau satu artikel yang dibaca dalam hitungan menit, tersimpan proses panjang yang menuntut kecepatan, ketelitian, sekaligus tanggung jawab. Setiap informasi harus diverifikasi, setiap kalimat dipertimbangkan, dan setiap keputusan redaksi harus berpihak pada akurasi.
“Kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan menjadi inspirasi dalam mengembangkan program maupun kegiatan jurnalistik di Papua,” kata Kepala Kelompok Ekonomi Keuangan Daerah (KEKDA) Bank Indonesia Papua, Sasongko Agung Nugroho.

Menurut Sasongko, kunjungan tersebut dirancang agar insan pers Papua dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah perusahaan media beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama di tengah transformasi digital yang terus berkembang.
Pengalaman itu juga dirasakan Pimpinan Redaksi FokusPapua.com, Merit Waromi. Baginya, Jawa Pos menunjukkan inovasi tidak harus mengorbankan integritas jurnalistik.
“Semangat inovasi dan komitmen menjaga integritas jurnalistik menjadi inspirasi bagi kami untuk terus menghasilkan karya yang informatif, berimbang, dan memberi manfaat bagi masyarakat,”ujarnya.
Diskusi bersama jajaran redaksi Jawa Pos berlangsung hangat. Berbagai tantangan media, mulai dari perubahan perilaku pembaca hingga tuntutan kecepatan di era digital, menjadi topik yang dibahas bersama.
Meski berasal dari daerah yang berbeda, persoalan yang dihadapi ternyata memiliki benang merah yang sama: bagaimana menjaga kepercayaan publik melalui karya jurnalistik yang berkualitas.
Wakil pemimpin Jawa Pos Firzan Syahroni, berharap hubungan tersebut tidak berhenti pada kunjungan singkat.
“Semoga teman-teman tidak kapok berkunjung ke Jawa Pos. Pintu kami selalu terbuka untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman,” katanya sambil tersenyum.

Melihat De Javasche Bank Surabaya.
Siang bergeser ketika rombongan melanjutkan perjalanan menuju Museum Bank Indonesia, yang dahulu dikenal sebagai De Javasche Bank Surabaya.
Begitu memasuki bangunan bergaya kolonial itu, suasana berubah drastis. Jika di ruang redaksi waktu seolah berlari, di museum ini waktu justru terasa berjalan perlahan.
Dinding-dinding tua, jendela-jendela tinggi dan lorong-lorong panjang seakan mengajak setiap pengunjung menelusuri perjalanan sejarah sistem keuangan Indonesia.
Di dalam ruang pamer, tersusun koleksi uang logam dari berbagai zaman, lembaran uang kertas masa kolonial, hingga informasi mengenai perkembangan sistem moneter Indonesia.
Salah satu sudut yang paling menarik perhatian adalah ruang brankas lama. Pintu besinya yang tebal dan lorong-lorong bercita rasa klasik menghadirkan pengalaman yang berbeda, seolah membawa pengunjung masuk ke dalam potongan sejarah yang masih terjaga.
Pengelola Museum Bank Indonesia Surabaya, Risky Jayanto, dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan dari para pengunjung. Penjelasannya membuat benda-benda yang semula hanya tampak sebagai koleksi museum berubah menjadi cerita tentang perjalanan bangsa, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat terhadap nilai uang.
Menjelang sore, perjalanan itu berakhir. Wajah-wajah lelah mulai terlihat, tetapi senyum tidak pernah hilang. Dalam sehari, kami diajak memasuki dua dunia yang berbeda, namun sesungguhnya saling berkaitan.
Di ruang redaksi Jawa Pos, kami belajar bahwa kepercayaan dibangun melalui fakta yang diverifikasi. Di Museum Bank Indonesia, kami memahami bahwa kepercayaan juga menjadi fondasi sistem keuangan yang telah tumbuh selama ratusan tahun.
Perjalanan singkat di Surabaya itu bukan sekadar agenda kunjungan. Ia menjadi ruang belajar yang mempertemukan masa depan media dengan jejak sejarah bangsa. Ketika pesawat kembali membawa kami ke Papua, yang ikut pulang bukan hanya dokumentasi dalam kamera atau catatan di buku kecil, melainkan juga keyakinan bahwa jurnalisme yang baik selalu lahir dari semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga integritas. (###)




