Jayapura,Indotimur –
Pemerintah Kota Jayapura menggelar Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Kota Jayapura di Lapangan Trisila TNI AL, Sabtu (7/3/2026). Upacara berlangsung khidmat dengan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat Kota Jayapura.
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan, menghargai sejarah, serta melanjutkan pembangunan Kota Jayapura menuju kota yang lebih maju dan sejahtera.
Abisai Rollo mengingatkan bahwa perjalanan Kota Jayapura merupakan sejarah panjang yang penuh dinamika. Ia menjelaskan bahwa wilayah ini pertama kali didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 7 Maret 1910 dengan nama Hollandia. Dalam perjalanan waktu, kota ini kemudian berganti nama menjadi Sukarnopura sebelum akhirnya secara resmi dinamai Jayapura melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 yang berarti Kota Kemenangan.
“Jayapura bukan sekadar nama, tetapi simbol harapan, perjuangan, dan kemenangan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa jauh sebelum dikenal sebagai Jayapura, wilayah ini telah dikenal oleh masyarakat adat sebagai Port Numbay, tanah leluhur yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal. Menurutnya, Port Numbay bukan sekadar wilayah geografis, melainkan identitas masyarakat asli yang diwariskan secara turun-temurun.
“Filosofi hidup masyarakat Port Numbay mengajarkan bahwa manusia, alam, dan Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Karena itu pembangunan kota harus tetap menghormati nilai-nilai adat,” katanya.
Selain memperingati hari jadi kota, Abisai juga mengingatkan bahwa bulan Maret memiliki makna spiritual bagi masyarakat di wilayah Tabi. Pada 10 Maret mendatang akan diperingati 116 tahun masuknya Injil di Tanah Tabi yang membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pekabaran Injil telah membawa terang melalui perkembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pembentukan karakter masyarakat Papua yang religius dan penuh kasih.
Pada usia ke-116 tahun, Abisai menilai Kota Jayapura telah berkembang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa di kawasan timur Indonesia. Ia menyebut kemajuan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
“Jayapura adalah rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya yang hidup berdampingan. Mari kita rawat persaudaraan dalam semangat ‘Hen Tecahi’ atau satu hati,” ujarnya.

Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan kota. Ia menegaskan bahwa kota yang maju harus dimulai dari lingkungan yang bersih dan tertata.
“Pantai yang bersih, sungai yang terjaga, dan lingkungan yang rapi adalah cerminan peradaban masyarakatnya. Mari kita rawat kota ini seperti kita merawat rumah kita sendiri,” katanya.
Ia mengakui berbagai tantangan pembangunan ke depan akan semakin kompleks, mulai dari dinamika ekonomi hingga perubahan sosial. Namun ia optimistis dengan semangat kebersamaan, kerja keras, dan doa, Kota Jayapura dapat terus berkembang menuju kesejahteraan.
Pemerintah Kota Jayapura, lanjutnya, akan terus memperkuat pemberdayaan masyarakat asli Papua, penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
“Momentum HUT ke-116 ini menjadi refleksi bagi kita semua untuk terus berkontribusi bagi kemajuan Kota Jayapura. Mari kita bangun kota ini bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan kasih, persaudaraan, dan integritas demi masa depan generasi yang akan datang,” tutupnya. (clo/iing)





