Jayapura, Indotimur –
Di Tanah Papua, sagu bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari sejarah panjang peradaban masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Dari hutan-hutan sagu yang luas, generasi demi generasi orang Papua bertahan hidup, menjadikannya sebagai sumber pangan utama yang diwariskan dari leluhur.
Namun seiring waktu, cerita itu perlahan berubah.
Di banyak rumah tangga Papua, sagu kini tidak lagi menjadi makanan sehari-hari. Papeda yang dulu selalu hadir di meja makan, kini lebih sering muncul saat acara keluarga, pesta adat, atau pertemuan khusus.
Motivator dan trainer pengembangan sumber daya manusia bagi anak muda Orang Asli Papua (OAP), Jose Alvan Ohee, menyebut perubahan ini sebagai sesuatu yang patut disadari bersama.
“Kalau kita mau jujur, makan sagu seperti dulu sebenarnya sudah bukan lagi makanan pokok bagi sebagian orang Papua,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kaka Jose itu mengingat bagaimana dahulu sagu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Berbagai olahan tradisional lahir dari bahan pangan tersebut, mulai dari papeda, sinoli, hingga swamening yang dikenal di wilayah Genyem.
Semua makanan itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga menyimpan cerita budaya dan identitas.
Sayangnya, banyak di antaranya mulai jarang ditemui.
Di sisi lain, perubahan landscape alam juga ikut memberi dampak. Hutan-hutan sagu yang dahulu menjadi penopang kehidupan perlahan berkurang akibat alih fungsi lahan.
Di kawasan Danau Sentani misalnya, sebagian hutan sagu yang dahulu tumbuh subur kini telah berubah fungsi. Padahal, menurut Kaka Yose, sagu bukan tanaman yang bisa tumbuh dalam waktu singkat.
“Sagu tidak tumbuh dalam satu atau dua tahun. Ia butuh waktu panjang untuk tumbuh. Kalau hutan sagu habis, menanam kembali jauh lebih sulit,” katanya.
Kondisi itu membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sagu tidak hanya penting sebagai pangan, tetapi juga sebagai bagian dari masa depan masyarakat Papua.
Kesadaran itulah yang kini coba dibangkitkan kembali melalui Festival Sagu yang akan digelar di Jayapura pada 24–26 April 2026 dalam rangka memperingati Hari Kekayaan Intelektual Sedunia.
Festival ini bukan sekadar pameran makanan.
Di sana, berbagai produk olahan sagu akan diperkenalkan, mulai dari cara tradisional hingga inovasi modern seperti es krim sagu, puding sagu, hingga bakso sagu. Para pelaku usaha kecil juga akan menunjukkan secara langsung bagaimana bahan pangan tersebut diolah.
Bagi Kaka Jose, kegiatan seperti ini penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa sagu adalah kekayaan yang tidak ternilai.

Ia percaya, jika dikelola dengan baik, sagu tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Papua.
Sementara itu Kakanwil Hukum Papua, Anthonius M Ayorbaba membeberkan potensi sagu di Tanah Papua sangat besar. Data menunjukkan, sebaran sagu terbesar berada di Kabupaten Sorong Selatan, diikuti Kabupaten Waropen dan Kabupaten Jayapura.
Ironisnya, di daerah lain seperti Kabupaten Kepulauan Meranti di Riau, sagu justru telah berkembang pesat hingga mampu menembus pasar ekspor.
Padahal, menurut cerita yang beredar, anakan sagu dari Sentani pernah dibawa ke daerah tersebut untuk dibudidayakan.
Kini Meranti dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia.
Cerita itu seakan menjadi pengingat bahwa Papua sebenarnya memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya digarap.
Karena itu, Kaka Yose berharap Festival Sagu tidak berhenti sebagai acara seremonial semata. Ia ingin kegiatan ini menjadi awal dari gerakan yang lebih besar untuk mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap sagu.
“Kalau masyarakat melihat bahwa sagu punya nilai ekonomi yang tinggi, maka mereka juga akan kembali menjaga dan menanamnya,” ujarnya.
Bagi masyarakat Papua, sagu bukan hanya makanan. Ia adalah simbol hubungan manusia dengan alam, warisan budaya, sekaligus harapan bagi masa depan.
Melalui festival ini, harapan itu perlahan mulai dihidupkan kembali. (ist/iing)




