Sentani, Indotimur –
Malam di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, terasa berbeda. Sorak sorai suporter Persipura Jayapura masih menggema, meski papan skor menunjukkan angka yang tak berubah sejak peluit pertama dibunyikan. Skor 0-0. Bagi Persela Lamongan, hasil itu terasa seperti kemenangan kecil di tanah yang terkenal angker bagi tim tamu.
Di ruang Meeting Pers stadion megah tersebut, pelatih Persela Lamongan, Bima Sakti, tampak datang dengan wajah sumringah. Senyum puas tak bisa disembunyikannya setelah tim asuhannya berhasil menahan imbang tuan rumah Persipura Jayapura dalam lanjutan Liga Pegadaian Championship 2025–2026, Sabtu malam (11/4/2026).
Bima memahami betul betapa sulitnya bermain di Jayapura. Atmosfer stadion, tekanan suporter, hingga agresivitas Persipura sejak menit awal menjadi tantangan yang selalu diingatnya.
“Bermain di Jayapura tidak pernah mudah. Saya sudah merasakannya sejak masih menjadi pemain,” ujar mantan pemain Timnas Indonesia era Primavera itu.
Ia bahkan membagikan pengalamannya kepada para pemain sebelum pertandingan dimulai. Bima meminta mereka bersabar menghadapi tekanan Persipura di awal laga.
Menurutnya, 15 menit pertama selalu menjadi fase paling berbahaya ketika menghadapi tim berjuluk Mutiara Hitam itu.
“Persipura biasanya tampil luar biasa di awal pertandingan. Saya bilang ke pemain, tahan dulu, jangan terpancing emosi. Kalau kita bisa melewati babak pertama, baru ujian sebenarnya dimulai,” katanya.
Strategi itu terbukti berhasil. Persela mampu meredam agresivitas Persipura yang tampil menyerang sepanjang pertandingan. Meski ditekan, lini pertahanan Persela tampil disiplin hingga peluit panjang berbunyi.
Bagi Persipura sendiri, hasil ini tentu terasa kurang memuaskan. Laga tersebut sangat penting bagi tim kebanggaan masyarakat Papua itu untuk menjaga peluang kembali ke Liga 1. Namun harapan meraih tiga poin di kandang harus pupus, dan mereka hanya mampu menambah satu poin.
Meski demikian, Bima tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada Persipura.
Ia menilai tim asuhan Rahmad Darmawan mengalami perkembangan yang signifikan sejak kembali ditangani pelatih berpengalaman tersebut.
“Persipura tim yang bagus dan progresnya luar biasa. Di Jayapura tidak pernah kekurangan talenta-talenta hebat untuk sepak bola Indonesia,” ujarnya.
Bima juga memuji atmosfer pertandingan di Jayapura yang menurutnya tetap menjunjung tinggi sportivitas.
“Kami berterima kasih kepada suporter di Jayapura. Dukungan mereka luar biasa, tapi tetap sportif kepada tim tamu,” katanya.
Striker Persela, Rafli, juga mengakui pertandingan berlangsung sangat berat. Namun kerja keras seluruh pemain membuat Persela mampu membawa pulang satu poin penting dari Papua.
“Kami respek dengan Persipura. Mereka tim yang bagus. Tapi kami bisa mendapatkan poin di sini berkat kerja keras seluruh pemain,” ujarnya singkat.
Bagi Persela, hasil imbang ini menjaga asa mereka tetap hidup dalam persaingan papan atas klasemen. Meski peluang menuju posisi puncak cukup berat, mereka masih berusaha meramaikan persaingan.
Sementara itu, perjalanan kompetisi masih panjang bagi Persipura. Dengan beberapa laga tersisa, peluang untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia masih terbuka.
Sepak bola selalu menyimpan cerita. Dan di Jayapura malam itu, cerita itu bukan tentang kemenangan atau kekalahan. Tetapi tentang bagaimana sebuah tim tamu datang dengan keberanian, kesabaran, dan pulang membawa satu poin berharga dari tanah Papua. (lia/ist)





