Tongkat di Tangan, Semangat di Hati : Kisah Nenek Hana Bertahan di Usia 76 Tahun

Sorot mata penuh kasih terlihat dari Walikota Jayapura Abisai Rollo saat memberikan bantuan usaha kepada Nenek Hana
Sorot mata penuh kasih terlihat dari Walikota Jayapura Abisai Rollo saat memberikan bantuan usaha kepada Nenek Hana

Jayapura, Indotimur –

Siang itu matahari menyinari kawasan Batu Putih, Polimak. Di sebuah rumah sederhana, senyum perlahan mengembang di wajah Nenek Hana Yansit (76) ketika rombongan Pemerintah Kota Jayapura tiba di halaman rumahnya.

Tubuh renta perempuan itu tak lagi sekuat dulu. Ia harus berjalan perlahan menggunakan tongkat kruk, bahkan sesekali dipapah oleh anggota keluarganya. Namun langkahnya tetap mantap ketika menyambut kedatangan Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo.

Pertemuan sederhana itu menghadirkan suasana haru. Di balik tubuh yang menua, tersimpan cerita tentang keteguhan seorang perempuan lanjut usia yang masih berjuang menghidupi dirinya dan anak semata wayangnya.

Meski telah berusia 76 tahun, Nenek Hana belum berhenti bekerja. Di dekat pelataran Gereja GKI Hermon, ia mendirikan sebuah kios kecil. Dari tempat itulah ia menjual berbagai kebutuhan sederhana untuk menyambung hidup.

Kios itu bukan sekadar tempat berjualan. Bagi Nenek Hana, kios kecil tersebut adalah simbol kemandirian dan harapan.

“Walaupun sudah lanjut usia, beliau masih memiliki semangat dan pemikiran untuk berusaha,” kata Wali Kota Abisai Rollo saat menyerahkan bantuan usaha perkiosan kepada Nenek Hana, Selasa (14/4/2026).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi yang digagas Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Sosial. Program ini ditujukan bagi kelompok rentan seperti lansia, wanita rawan sosial, serta orang dengan HIV (ODHIV).

Siang itu, bukan hanya Nenek Hana yang menerima perhatian. Secara keseluruhan, ada 17 orang penerima bantuan usaha kecil yang diharapkan dapat memperkuat ekonomi keluarga mereka.

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan berupa paket perlengkapan usaha kios untuk membantu masyarakat memulai atau mengembangkan usaha kecil.

Namun bagi Nenek Hana, bantuan itu lebih dari sekadar barang dagangan untuk mengisi rak kiosnya. Bantuan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan hidupnya tidak luput dari perhatian.

Di usia yang senja, ketika banyak orang memilih beristirahat, Nenek Hana justru masih berdiri di balik meja kiosnya, menyapa pembeli dengan ramah.

Tongkat kruk memang menopang langkahnya. Tetapi yang membuatnya terus berjalan adalah semangat hidup yang tak pernah padam.

Di sudut kecil Batu Putih, kisah Nenek Hana menjadi pengingat bahwa kerja keras dan keteguhan hati tidak mengenal usia. Bahkan pada usia 76 tahun, harapan masih bisa tumbuh—di balik sebuah kios kecil. (clo/iing)

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi